Menang dan Kalah

Oleh Masduri*)

Dalam kenyataan hidup, menang dan kalah merupakan kenyataan yang setia menyertai setiap langkah dan perjalanan kehidupan. Ruang-ruang sesak kehidupan penuh dengan pesta gembira kemenangan dan huru-hara kekalahan. Seperti tidak ruang lain dalam kehidupan, kecuali isinya kemenangan dan kekalahan. Kenyataan tentang menang dan kalah kerapkali menghadirkan kenyataan-kenyataan paradoksal. Sesuatu yang tak terkira bisa saja hadir menjalankan drama kehidupannya. Seperti pertunjukan yang belakangan dipertontonkan oleh Ananda Sukarlan dalam acara Perayaan 90 Tahun Kolese Kanisius di JIExpo Kemayoran Jakarta.

Publik boleh saja saling melempar dan menangkap makna pada tindakan Ananda Sukarlan. Sebagai realitas, Ananda sedang bermain makna tindakan. Seperti kemarin Anies juga bermain bahasa pribumi dan kolinialisme. Tindakan bukanlah serangkaian laku hidup yang hadir secara spontan dan tiba-tiba. Ada proses menjadi secara terus-menerus (constantly in process of becoming), yang oleh Sren Kierkegaard disebut sebagai kesadaran eksistensial yang dinamis. Proses menjadi tentu ditandai dengan beragam respons dan pengambilan makna dari Ananda pada kenyataan-kenyataan hidup yang hadir dalam kesehariannya. Walk Out Ananda berarti kekecewaan pada Anies Baswedan, karena dinilai mencederai nilai-nilai Kanisius. Pada posisi ini, Ananda telah menjungkalkan Anies sebagai pribadi yang tak etis berbicara di depan para peserta acara yang diselenggarakan oleh Kolese Kanisius.

Dalam proses menjadi, tindakan Ananda lahir secara berkesinambungan dengan fakta-fakta lain sebelumnya. Seperti kenyataan bahwa dukungan Ananda, Ahok-Djarot, dalam kontestasi Pilgub DKI Jakarta kalah dengan pasangan Anies-Sandi. Kekalahan seringkali membuat tindakan tidak terkontrol dengan baik. Kekalahan selalu melahirkan konotasi makna derita, kesedihan, dan nestapa besar. Kondisi ini kerapkali mendesak manusia sebagai pribadi menjadi liar. Karenanya, konstruksi makna, seperti bahasa Max Weber dalam tindakan manusia, menentukan arah tindakannya. Artinya, selain fakta-fakta yang mendesak, ada konstruksi makna yang dimainkan, sehingga seseorang bisa memainkan tindakannya bukan sebatas robot yang digerakkan oleh keterpaksaan atas fakta atau kenyataan hidup yang hadir.

Menanggung Kenyataan

Sudah kodratnya, kehidupan tak sebatas kemenangan, yang konotasi maknanya kerap kali disepadankan dengan kegembiraan, keriangan, dan kebahagiaan mendalam. Ada kekalahan yang juga sesekali, bahkan kerap kali menyesaki ruang-ruang kehidupan kita. Karenanya, kita perlu bermain dengan baik, supaya kenyataan apapun tindak menyesakkan dan atau membuat kita terbang tanpa ingat bumi yang dipijak. Betapapaun kekalahan sangat menyesakkan, masih ada ruang luas nan panjang dalam hidup, yang memungkinkan meraih kemenangan di lain tempat dan waktu. Begitupun, walau kemenangan sangat membahagiakan, masih ada ruang luas nan panjang dalam hidup, yang kemungkinan terjungkal pada jurang-jurang terdalam kekalahan pada tempat dan waktu yang lain.

Kemenangan Anies-Sandi mungkin menggembirakan. Namun ada tugas yang harus ditanggung sebagai kenyataan hidup mereka menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Anies-Sandi harus mempertaruhkan kepemimpinannya untuk melunasi janji-janji kampanye dan tugas konstitusional kepemimpinan. Artinya, meski Anies-Sandi memenangkan kontestasi Pilgub, mereka berdua harus menanggung derita untuk mengabdi dengan sebaik-baiknya kepada rakyat Jakarta. Seperti bahasa Haji Agus Salim, memimpin adalah menderira (leiden is lijden). Kepemimpinan yang menderita merupakan kepemimpinan yang memproyeksikan seluruh hidupnya bagi kepentingan rakyat.

Kekalahan Ahok-Djarot mungkin menyesakkan. Tapi ada keterbebasan diri dari tugas-tugas berat kepemimpinan. Kekalahan memunculkan ruang-ruang ekspresi yang tak terbatas. Karena tidak ada lagi tanggung jawab yang harus dipikul di pundaknya. Kelalahan Ahok-Djarot merupakan kebebasan dirinya untuk mengabdi di jalan lain, yang tentu makna kiprahnya bisa sepadan dengan posisi sebagai pemimpin di DKI Jakarta jika dilakukan secara maksimal dan penuh pengabdian. Kalau sejak awal semangat yang dibangun adalah pengabdian, tentu banyak lapangan luas pengabdian yang bisa digarap oleh orang-orang berintegritas.

Sebab itu, tidak berlebihan jika hadir peribahasa kekalahan adalah kegembiraan (nederlaag is geestdrift), sebagai gambaran kebebasan dari tanggung jawab besar.

Selama ini kemenangan maknanya kerap kali dikonotasikan dengan kegembiraan karena kepemimpinan dimaknai sebagai kekuasaan. Kekuasaan untuk menduduki jabatan tertinggi dan mengendalikan kekuasaan guna mengeruk kekayaan rakyat dan negara. Begitupun, kekalahan seringkali dikonotasikan dengan kesedihan sebab kekalahan dimaknai sebagai kehilangan kekuasaan untuk mengeruk sebesar-besarnya kekayaan rakyat dan negara. Kalau kepemimpinan dimaknai sebagai pengabdian tentu yang menanti di depannya adalah penderitaan panjang selama lima tahun karena tidak lagi bisa fokus mengurus diri sendiri dan keluarganya. Ada tugas besar dari rakyat di pundaknya yang harus dipertanggungjawabkan dengan baik. Karena itu benar bahasa Haji Agus Salim, memimpin adalah menderita, bukan kegembiraan.

Ananda Sukarlan mungkin sedang mempertunjukkan kekalahan sebagai derita, kesedihan, dan nestapa besar, sehingga ia bermain di depan panggung (front stage) sembari mengkritik Anies yang baginya tak etis dalam memenangkan kontestasi Pilgub. Mungkin bagi Ananda etis adalah walk out dari acara perayaan, sembari di luar menebar sinisme. Kita tak paham apa maksud sebenarnya, untuk popularitas, atau Ananda sedang menggarap panggung teater dramaturgi Erving Goffman, yang sudah dipersiapkan jauh hari di belakang panggung (back stage), guna menyedot perhatian publik sebagai kenyataan kolosal tentang pertunjukkan politik kita yang tak beradab.

*)Masduri, Dosen Filsafat dan Pancasila pada Program Studi Akidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya.

Tag:, , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *