Demokratisasi Parpol

Oleh Masduri*)

REPUBLIKA, 8 DESEMBER 2017-Partai politik (parpol) adalah pilar penting demokrasi. Karena itu, mestinya parpol merepresentasikan seluruh nilai demokrasi. Salah satu nilai fundamental dalam demokrasi adalah keadilan (Henry B. Mayo, 1960).

Keadilan mencakup sikap dan tindakan yang proporsional dengan tidak mengesampingkan nilai-nilai kebaikan-kebenaran. Proporsionalitas dijalankan tidak dengan sikap sewenang-wenang, berat sebelah, dan memihak. Keadilan tidak menempatkan seseorang secara setara.

Ada batas-batasan nilai dan aturan yang disepakati sebagai ketentuan bersama. Karenanya, publik lebih mudah memahami keadilan sebagai sikap dan tindakan menempatkan sesuatu pada tempatnya (proporsional).

Belakangan ini, nilai-nilai keadilanproporsionalitassemakin terjungkal pada jurang terdalam terkuburnya nilai fundamental demokrasi. Saksikan saja, kondisi parpol di republik ini layaknya suatu kerajaan.

Ada tokoh sentral, yang posisinya tidak jauh berbeda dengan raja. Tokoh tersebut bisa ketua umum, dewan pembina, atau pendiri parpol. Segenap keputusannya, berarti keputusan partai. Mesin demokrasi mati kutu dalam parpol.

Kondisi matinya nilai-nilai demokrasi, berdampak pada penentuan calon anggota legislatif ataupun eksekutif. Pencalonan anggota legislatif relatif lebih terbuka dan proporsional, karena ruangnya lebih luas dan banyak.

Meskipun pada batas-batas tertentu, tokoh sentral bermain di posisi penentuan nomer urut.

Hanya, tidak terlalu parah. Sementara, untuk pencalonan dalam Pemilu eksekutif, rentan penyelahkangunaan wewenang dan pengingkaran nilai demokrasi.

Faktanya bisa dilihat, menyambut Pilkada Serentak 2018, elit parpol berburu calon potensial. Figur-figur dominan dengan popularitas, elektabilitas, dan akseptabilitas tinggi banyak dikerumuni elit parpol. Mereka tawar-menawar, tarik-menarik, dan tukar-menukar kepentingan.

Tidak ada parpol yang tidak memiliki kepentingan pada setiap keputusan dan kebijakannya. Omong kosong elit parpol yang sering berseloroh tidak memiliki kepentingan apapun dalam dukung-mendukung terhadap pasangan calon tertentu.

Bukahkah sudah publik pahami, kalau kepentingan dalam parpol adalah sesuatu yang abadi. Keabadian kepentingan bahkan mampu meluruhkan sekat-sekat permusahan besar sekalipun.

 

Hilangnya keadilan

Posisi dominan tokoh, atau bahkan dominasi tokoh sentral dalam penentuan keputusan dan kebijakan parpol berimplikasi secara mendasar terhadap hilangnya hak-hak pengurus atau anggota sebagai kader parpol, yang mestinya diproyeksikan dapat mengisi pos-pos penting dalam pencalonan pemilu eksekutif.

Karena faktanya, tokoh sentral banyak bermain mata dengan figur-figur dominan, baik figur tersebut kader parpol lain atau bukan kader parpol. Model lirik-melirik dan permainan mata bisa dilihat pada dukung-mendukung di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, atau daerah lainnya menjelang Pilkada 2018.

Ketika elit parpol tidak memiliki rasa percaya diri yang besar terhadap kader ideologis parpolnya sendiri, penanda runtuhnya nilai-nilai demokrasi semakin besar.

Kalau hal ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin kebangkrutan parpol sebagai pilar penting demokrasi bakal terjadi.

Dominasi identitas figur (figure ID) yang besar, yang pada sisi lain menjungkalkan identitas parpol (party ID), merefleksikan parpol tidak mampu membangun institusionalisasi demokrasi dengan baik.

Demokrasi menjadi semacam mitos dalam masyarakat modern, dipuja-puja dalam ruang komunal, namun dijungkalkan dalam ruang personal.

Parpol adalah cermin besar demokrasi nasional kita. Buruknya demokrasi parpol menadai buruknya demokrasi nasional.

Ketergantungan parpol pada tokoh sentral merupakan persoalan mendasar. Sebenarnya, kalau hendak jujur, bukan ketergantungan, melainkan dominasi yang dilakukan secara sengaja untuk menjaga stabilitas parpol.

Karena sebenarnya, ada banyak aktivis-intelektual muda dalam parpol, yang memiliki integritas dan kapabilitas mumpuni, untuk misalnya menjadi ketua umum parpol. Hanya, dominasi tokoh sentral, menutup akses-akses tersebut.

Efeknya, aktivis- intelektual menjadi babu dari tuan dan puan parpol yang menjungkalkan nilai-nilai demokrasi. Sirkulasi kepemimpinan di negara kita, pada konteks daerah ataupun nasional, hanya dimainkan oleh tokoh-tokoh sentral yang sudah tidak asing lagi dalam benak publik.

Tidak heran kalau dominasi tokoh-tokoh sentral parpol belakangan ini banyak turun gunung ke daerah menjelang Pilkada 2018. Mereka melakukan konsolidasi lewat kandisasi figur dominan untuk menyiapkan suksesi kepemimpinan pada Pemilu 2019 mendatang.

Kemenangan dalam Pilkada Serentak 2018 menjadi penanda awal kesuksesan dalam kontestasi Pilpres 2019.

Seharusnya, parpol sebagai pilar demokrasi, menegakkan praktik-pratik demokratis pada setiap keputusan dan kebijakan partainya.

Merujuk pada makna dasarnya, partai adalah perkumpulan segolongan orang yang seasas, sehaluan, dan setujuan, terutama di bidang politik (kbbi.web.id). Karena itu, ruang pengelolaan parpol adalah ruang bersama. Tanpa adanya kebersamaan (pengurus/anggota) parpol bukanlah partai.

Itulah mengapa dalam demokrasi, keadilan sering juga dimaknai sebagai bentuk kesetaraan, sebab setiap pengurus atau anggota parpol memiliki hak sama turut serta menentukan masa depan parpolnya lewat berbagai keputusan dan kebijakan yang diambil.

Praktik dominasi yang besar dari tokoh sentral menempatkan parpol tidak lagi sebagai pilar demokrasi, setidaknya dalam konteks politik nasional kita sekarang.

Parpol jutsru menyuburkan praktik-pratik de-demokratisasi, dengan beragam keputusan dan kebijakannya yang monarki tersebut.

Sesuatu yang bertotak belakang dengan semangat keadilan untuk organisasi yang dikelola secara komunal.

Kita sebenarnya mendesak melakukan revolusi parpol, sebelum melakukan revolusi nasional untuk meningkatkan kesejahteraan hidup bersama, sebagai hak mendasar yang harus didapatkan setiap warga dalam negara demokratis.

*)Masduri, Koordinator Poltracking Indonesia Wilayah Jawa Timur, Dosen Filsafat dan Pancasila pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya.

Tag:, , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *