Refleksi Kebangsaan Pemuda

Oleh Masduri*)

Serambi Indonesia, 27 Oktober 2015-Tidak dapat dipungkiri, pemuda memiliki peran yang siginifikan bagi kemajuan sebuah bangsa. Bung Karno sebagai proklamator kemerdekaan bangsa Indonesia, pernah berujar: beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia. Pernyataan Bung Karno ini, merupakan penegasan bahwa pemuda memiliki peran yang sangat besar bagi kemajuan suatu bangsa. Karena pemuda memiliki semangat yang besar, jiwa yang heroik, pikiran yang cemerlang, tenaga yang ekstra kuat, dan keinginan yang begitu besar untuk menciptakan perubahan. Berbekal keuatan besar tersebut, pemuda bisa menggerakkan perubahan yang progresif bagi bangsanya.

Dalam konteks hari ini, di tengah karut-marutnya persoalan bangsa yang tak berujung, sebenarnya pemuda menjadi harapan satu-satunya, ketika berbagai kalangan banyak apatis terhadap beragam persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia. Apalagi pemuda memiliki semangat yang luar biasa untuk menciptakan perubahan. Merekalah yang sebenarnya sengat tepat menggerakkan perubahan di negeri ini, untuk membawa bangsa Indonesia meninggalkan berbagai keterpurukan yang sedang kita hadapi. Pemuda menjadi kekuatan yang luar biasa bila mereka bergerak serentak dan berkomitmen sama untuk memajukan bangsa Indonesia.

Kita bisa melacak sejarah masa lalu, perjuangan kemerdekaan di negeri ini digerakkan oleh para pemuda, seperti lahirnya Budi Utomo pada 20 Mei 1908 yang kemudian kita peringati sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Pendiri Budi Utomo adalah para pemuda, yakni Dr Soetomo, Dr Wahidin Sudirohusodo dan mahasiswa Stovia, Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji. Kemudian Budi Utomo menginspirasi lahirnya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Dari sini, semangat nasionalisme anak-anak negeri terus berkobar, menembus batas-batas daerah, pulau, etnis, suku, dan agama. Kesadaran kesatuan Tanah Air, kebangsaan dan bahasa menggerakkan para pemuda untuk melakukan perlawanan terhadap segala bentuk kolonialisasi yang dilakukan oleh para penjajah. Hingga pada 17 Agustus 1945 bangsa Indonesai bisa memproklamirkan kemerdekaannya.

Semangat juang yang begitu besar dari pemuda masa lalu telah menghasilkan perubahan besar bagi bangsa Indonesia. Jiwa heroik para pemuda selalu menggerakkan dirinya untuk tidak berdiam diri melihat realitas keterpurukan bangsa yang ada di hadapannya. Mereka tidak pernah mengenal lelah demi perubahan, pikiran mereka sangat idealis, mereka mengingikan terwujdukanya Indonesai yang berdaulat, adil dan makmur sebagaimana amanat pembukaan UUD 1945. Maka tidak heran ketika Presiden Suharto pada 1998 dilengserkan, karena dinilai pemimpin korup, otoriter dan tidak mampu menyejaterakan bangsa Indonesia. Walaupun Suharto merupakan rezim yang keras dan kejam, pemuda tidak pernah takut, karena bagi mereka kesejahteraan bangsa Indonesai adalah harga mati yang harus dicapai. Dan hasilnya mereka mampu melahirkan era reformasi di negeri ini.

Lemah persatuan
Hanya saja, akhir-akhir ini pemuda Indonesia dirundung beragam persoalan, terutama menyangkut kesatuan dan persatuan di antara pemuda. Berbagai fakta buruk tentang lemahnya rasa persatuan dan kesatuan pemuda semakin sering terjadi, misalnya betapa sangat sering peristiwa bentrok di antara pemuda mewarnai kehidupan mereka. Tawuran di antara pemuda seolah menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka, politik busuk pemuda. Mereka saling sikat dengan teman-temannya hanya untuk mendapatkan posisi penting dunia kampus, bahkan tidak jarang dari mereka karena beda organisasi ekstra sering berkonflik, bahkan kadang berujung pada tindakan kekerasan.

Yang sangat kita sesalkan kadang-kadang hanya karena sepak bola para pemuda di negeri ini bentrok, misalnya kasus Bonex dan Aremania. Mereka bertindak arogan dan anarkis hanya untuk menonjolkan daerahnya masing-masing, sementara bangsa ini sudah mengikrarkan diri sebagai bangsa yang satu puluhan tahun yang lalu. Mereka tidak menyadari bahwa kemajuan suatu bangsa dapat tercapai dengan baik, jika ada ikhtiar untuk menyatukan berbagai perbedaan yang ada di dalamnya. Bahkan yang lebih parah lagi kadang mahasiswa sebagai pemuda terdidik juga tindakannya masih seperti anak kecil, seringkali hanya karena beda organisasi ekstra, beda kampus, beda daerah mereka tawuran. Seperti yang sering dilakukan mahasiswa di Makassar. Di sana begitu sering terjadi bentrok antarmahasiswa.

Mestinya sebagai pemuda terdidik mahasiswa bisa memberikan contoh yang baik kepada mereka yang belum mencicipi perguruan tinggi, terutama kepada mereka yang mungkin belum pernah menyentuh dunia pendidikan, atau setidaknya bagi mereka yang hanya lulus SD atau SMP sederajat. Mereka membutuhkan contoh dari orang yang sebaya dengan dirinya untuk melakukan perubahan-perubahan di negeri ini. Tidak mungkin mereka yang pendidikannya lemah bisa menjadi penggerak perubahan. Sebab itu, kita sangat prihatin ketika melihat mahasiswa yang memiliki arti penting bagi pembangunan suatu bangsa tidak bisa menjalakan fungsinya dengan baik. Mestinya mahasiswa sebagai pemuda yang tingkat pendidikannya sudah mapan, harus berada di garda paling depan dalam menyulut semangat perubahan dan persatuan di kalangan pemuda.

Mahasiswa harus mampu mengajak pemuda yang lainnya untuk berdamai demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Karena tidak mungkin perubahan yang besar dapat dicapai jika para pemuda tidak bersatu. Fanatisme organisasi, daerah, etnis, suku, dan agama harus dihilangkan demi kemajuang bangsa Indonesia. Semu pemuda dengan beragam latar belakang perbedaan harus bisa bergerak bersama mewujudkan perubahan di negeri ini. Pemuda selain sebagai penggerak perubahan, mereka juga merupakan generasi masa mendatang yang menentukan wajah bangsa Indonesai di masa depan. Karena itu, sekarang mereka hasus meningkatkan persatuan dan kesatuan untuk perubahan besar bangsa Indonesia.

Sebenarnya, arahan akan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa telah lama dicetuskan Mpu Tantular dalam Kitab Sutasoma-nya, melalui gagasan Bhinneka Tunggal Ika, Mpu Tantular hendak merajut perbadan di Nusantara menjadi kesatuan yang tak tebecara-berai, demi terciptanya kesejahteraan bersama. Termasuk kontekstualisasi dari gagasan ini adalah pentingnya kesatuan dan persatuan di antara para pemuda dalam mewjudkan perubahan di negeri ini. Tanpa persatuan dan kesatuan bangsa tidak mungkin terwujud Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur sebagaimana amanah UUD 1945. Falsafah sapu lidi yang biasa kita contohkan dalam wacana pentingnya persatuan dan kesatuan menjadi bukti konkret, bahwa jika hanya satu lidi saja ia tidak akan bermakna apa-apa. Begitu pula gerakan perubahan yang dilakukan oleh satu kelompok pemuda saja akan kehilangan bargaining position-nya.

Dalam pergerakan Budi Utomo, Ki Hajar Dewantara, juga menyerukan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa untuk menentang segala bentuk koloniasiasi Belanda. Kemudian seperti penulis uraikan di atas, Budi Utomo yang didirikan pada 1908 ini menginspirasi lahirnya Sumpah Pemuda 1928. Melalui Sumpah Pemuda, ikrar kesatuan dan persatuan bangsa terus menggema di Tanah Air. Sekarang tidak ada alasan untuk tidak bersatu jika pemuda benar-benar berkomitmen besar untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur. Semoga!

*)Masduri, pengelola Laskar Ambisius (LA) dan Direktur Gerakan UIN Sunan Ampel Menulis (GISAM) Surabaya, Jawa Timur.

Tag:, , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *